Assalamu 'alaikum wrwb.,
Bismillahirrahmaanirrahiim,
Sudah banyak orang tahu bahwa saat ini telah beredar aplikasi perkantoran yang mulai banyak digandrungi seperti Microsoft Office, OpenOffice.org dan StarOffice.
Orang masih agak takut untuk menggunakan alternatif lain atau berpindah situasi karena akan mengubah kebiasaan. Contohnya adalah penggunaan aplikasi perkantoran.
Sekedar informasi.
Saat ini telah hadir dan banyak digunakan MS Office 2007 di kalangan akademik, pebisnis dan sebagainya sebagai alat bantu mensukseskan proses bisnisnya.
Apa yang menarik dari Office 2007? Beberapa hal yang menarik di antaranya adalah tampilan grafis, animasi yang ditawarkan, efek 3D, sehingga membuat pengguna merasakan setiap tulisannya terasa seperti buatan profesional :)
Sementara, para pengguna yang sudah terlanjur dengan aplikasi lain atau baru mau bermigrasi masih sedikit ragu2 untuk melanjutkan niatnya menggunakan aplikasi alternatif. Kebanyakan mereka takut dan bertanya:
"Bisa gak yach kalau saya pakai StarOffice atau OpenOffice membuka file2
Microsoft Office 2007?"
"Kalau pun bisa dibuka, apakah rusak atau tidak yach formatnya?"
"Kalau pun bisa dibuka, apakah berubah?"
Tanya kenapa? Tanya Uncle Google? Tanya Tante Wiki? :)
Mudah2an kendala2 tersebut saat ini sedikit dapat berkurang dikarenakan telah banyak sistem operasi alternatif yang Opensource dan costless dapat digunakan, seperti Linux dengan membawa paket2 aplikasi yang tidak kalah dengan yang ada di Windows maupun Mac.
Bagi pengguna atau calon pengguna OpenOffice.org, kendati untuk versi Ooo 2.4 dan candidate 2.5 juga sudah mensupport format Microsoft Office 2007, apa salahnya jika ditambah plugins ODF Converter Integrator. Apa itu ODF Converter Integrator? Berikut saya cuplikan sedikit ringkasan mengenai project tersebut dari situs http://katana.oooninja.com/w/odf-converter-integrator :
/** Start of Abstract
Convert Office 2007 (OOXML) files for OpenOffice.org A utility to convert Microsoft Office 2007 (Office Open XML) files and automatically start OpenOffice.org. Registers file types and mime types such as .docx, .xlsx, and .pptx so that Nautilus, Firefox, and other programs automatically recognize them.
odf-converter-integrator is an easy way to open Microsoft Office 2007 files (also called Office Open XML, .docx, .xlsx, and .pptx) with a high-quality conversion on any Linux or Windows system in any OpenOffice.org.
odf-converter-integrator uses the high-quality odf-converter code (which converts between Office Open XML and OpenDocument) as packaged by Novell and integrates it into the operating system. That means when you click on a .docx/.xlsx/.pptx file on a web page, in an email attachment, or your desktop, odf-converter-integrator springs into action, converts the .docx/.xlsx/.pptx to an .odt/.ods/.odp, and then automatically opens the new document in OpenOffice.org, StarOffice, Abiword, KWord, Gnumeric, Microsoft Office 2003, or whatever is your default ODF editor.
odf-converter-integrator is simply a little glue to overcomes the integration limitation of the Novell odf-converter, which cannot integrate into most editions of OpenOffice.org (such as the vanilla/Sun Microsystems edition, Fedora, OxygenOffice, and others).
**/ End of Abstract
Demikian sekilas infoLinux.
Mudah2an bermanfaat dan mohon ma'af bagi yang sudah menggunakannya.
Wassalamu 'alaikum wrwb.,
Heru Sukoco
-----------------
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Juli 2008
Minggu, 27 Januari 2008
Tempe
Sumber: Putu Setia (PS) dari Koran Tempo Edisi Minggu, 27 Januari 2008.
Saya dalam tulisan ini adalah penulis asli = Putu Setia (PS)
Jangan mau menjadi "bangsa tempe". Begitu seorang pemimpin di masa lalu berseru sambil mengacungkan tangan. Saya (PS) yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama--berbaju lusuh tanpa alas kaki--menyambut acungan tangan itu dengan teriakan "ganyang kapitalisme dan imperialisme". Saya tak berhasil mengingat apakah saat itu saya tahu arti kapitalisme dan imperialisme. Tapi kata "ganyang" saya tahu artinya, banyak sekali yang harus "diganyang": ada Malaysia, Inggris, Amerika, belum lagi "nekolim" yang kalau tak salah akronim dari neokolonialisme dan imperialisme. Saya baru saja dijadikan anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia.
Saya tak bermaksud menyoroti suasana politik di masa itu. Saya betul-betul hanya mau menyoroti soal tempe. Ketika itu, dasawarsa 1960-1970, sawah saya di kampung masih ditanami kedelai. Separuh tahun ditanami padi, separuh tahun ditanam palawija, khususnya kedelai. Sawah-sawah lainnya juga begiut. Kedelai jadi produk pertanian yang penting. Setelah panen, kedelai bisa direbus untuk camilan, bisa dijadikan sayur, selebihnya dijual kepada juragan lalu dibawanya ke kota untuk dijadikan tempe. Setelah jadi tempe, dibawa lagi ke desa. Tempe betul-betul makanan rakyat jelata, orang-orang yang kalah bersaing dalam hal apa pun. Karena itu, para pemimpin partai--yang hampir tiap hari berkeliling desa dan dekolah--selalu berpidato: jangan menjadi rakyat jelata, jangan kalah bersaing, jangan jadi "bangsa tempe", bangkitlah kamu marhaen..., dan seterusnya.
Suasana politik berubah. Suasana sawah juga berubah. Sekarang sawah-sawah tidak lagi ditanami kedelai. Adapun tempe masih ada di pasar, baik di pasar tradisional yang becek maupun di pasar swalayan yang berlantai marmer. Tempe tak hanya jadi konsumsi "orang-orang kecil" (tukang ojek, kuli bangunan, dan sebangsanya), tapi juga dimakan "orang-orang besar". Saya sendiri, sebagai penganut vegetarian yang ketat, tak bisa lepas dari tempe dan tahu, lebih sering membeli di pasar yang becek. Belum lagi adanya tren minum susu kedelai yang konon bisa meningkatkan metabolisme tubuh.
Kalau sawah-sawah di Bali, Lomboh, Jawa sudah asing lagi dengan kedelai, dari manakah bahan baku tempe itu datangnya? Ternyata dari Amerika Serikat, negeri yang dulu ikut jadi sasaran ganyang. Sebagian besar kedelai diimpor dari negeri kapitalis itu. Pedagang tempe langganan saya, Haji Mahmud, tak tahu kenyataan itu. "Wah, saya jadi malu, dulu pernah ikut memboikot produk Amerika atas anjuran seorang ulama", ujar Pak Haji.
Yang lebih malu lagi seorang profesor pertanian di Universitas Udayana. Profesor ini heran, bukan hanya satelit, komputer dan mobil yang diimpor, produk pertanian seperti kedelai, beras, gula juga diimpor. Lalu sawah-sawah Indonesia ditanami apa? Pemerintah tak pernah punya kebijakan yang membela para petani. Sawah-sawah dibiarkan setengah telantar, negeri agraris sudah tinggal nama saja. Pada saat negeri ini digoyang masalah tempe, langkah pemerintah hanya jangka pendek, menurunkan bea masuk kedelai impor sampai nol persen. Tak ada yang berpikir untuk kembali berswasembada kedelai, minimal menganjurkan menanam kedelai.
Jadi, kalau sekarang Anda makan tempe dan tahu, itu artinya Anda menguntungkan petani Amerika. Slogan di masa lalu, "Jangan jadi Bangsa Tempe" sudah sepatutnya diganti menjadi "Jadilah Bangsa Tempe", artinya tirulah kemajuan Amerika. Entahlah, apa negeri itu yang terus-menerus melesat maju, atau negeri kita yang semakin amburadul.
Saya dalam tulisan ini adalah penulis asli = Putu Setia (PS)
Jangan mau menjadi "bangsa tempe". Begitu seorang pemimpin di masa lalu berseru sambil mengacungkan tangan. Saya (PS) yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama--berbaju lusuh tanpa alas kaki--menyambut acungan tangan itu dengan teriakan "ganyang kapitalisme dan imperialisme". Saya tak berhasil mengingat apakah saat itu saya tahu arti kapitalisme dan imperialisme. Tapi kata "ganyang" saya tahu artinya, banyak sekali yang harus "diganyang": ada Malaysia, Inggris, Amerika, belum lagi "nekolim" yang kalau tak salah akronim dari neokolonialisme dan imperialisme. Saya baru saja dijadikan anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia.
Saya tak bermaksud menyoroti suasana politik di masa itu. Saya betul-betul hanya mau menyoroti soal tempe. Ketika itu, dasawarsa 1960-1970, sawah saya di kampung masih ditanami kedelai. Separuh tahun ditanami padi, separuh tahun ditanam palawija, khususnya kedelai. Sawah-sawah lainnya juga begiut. Kedelai jadi produk pertanian yang penting. Setelah panen, kedelai bisa direbus untuk camilan, bisa dijadikan sayur, selebihnya dijual kepada juragan lalu dibawanya ke kota untuk dijadikan tempe. Setelah jadi tempe, dibawa lagi ke desa. Tempe betul-betul makanan rakyat jelata, orang-orang yang kalah bersaing dalam hal apa pun. Karena itu, para pemimpin partai--yang hampir tiap hari berkeliling desa dan dekolah--selalu berpidato: jangan menjadi rakyat jelata, jangan kalah bersaing, jangan jadi "bangsa tempe", bangkitlah kamu marhaen..., dan seterusnya.
Suasana politik berubah. Suasana sawah juga berubah. Sekarang sawah-sawah tidak lagi ditanami kedelai. Adapun tempe masih ada di pasar, baik di pasar tradisional yang becek maupun di pasar swalayan yang berlantai marmer. Tempe tak hanya jadi konsumsi "orang-orang kecil" (tukang ojek, kuli bangunan, dan sebangsanya), tapi juga dimakan "orang-orang besar". Saya sendiri, sebagai penganut vegetarian yang ketat, tak bisa lepas dari tempe dan tahu, lebih sering membeli di pasar yang becek. Belum lagi adanya tren minum susu kedelai yang konon bisa meningkatkan metabolisme tubuh.
Kalau sawah-sawah di Bali, Lomboh, Jawa sudah asing lagi dengan kedelai, dari manakah bahan baku tempe itu datangnya? Ternyata dari Amerika Serikat, negeri yang dulu ikut jadi sasaran ganyang. Sebagian besar kedelai diimpor dari negeri kapitalis itu. Pedagang tempe langganan saya, Haji Mahmud, tak tahu kenyataan itu. "Wah, saya jadi malu, dulu pernah ikut memboikot produk Amerika atas anjuran seorang ulama", ujar Pak Haji.
Yang lebih malu lagi seorang profesor pertanian di Universitas Udayana. Profesor ini heran, bukan hanya satelit, komputer dan mobil yang diimpor, produk pertanian seperti kedelai, beras, gula juga diimpor. Lalu sawah-sawah Indonesia ditanami apa? Pemerintah tak pernah punya kebijakan yang membela para petani. Sawah-sawah dibiarkan setengah telantar, negeri agraris sudah tinggal nama saja. Pada saat negeri ini digoyang masalah tempe, langkah pemerintah hanya jangka pendek, menurunkan bea masuk kedelai impor sampai nol persen. Tak ada yang berpikir untuk kembali berswasembada kedelai, minimal menganjurkan menanam kedelai.
Jadi, kalau sekarang Anda makan tempe dan tahu, itu artinya Anda menguntungkan petani Amerika. Slogan di masa lalu, "Jangan jadi Bangsa Tempe" sudah sepatutnya diganti menjadi "Jadilah Bangsa Tempe", artinya tirulah kemajuan Amerika. Entahlah, apa negeri itu yang terus-menerus melesat maju, atau negeri kita yang semakin amburadul.
Langganan:
Postingan (Atom)

