Minggu, 16 Maret 2008

Antara mudik dan tidak

Bogor, Minggu, 16 Maret 2008 16.13
Antara mudik dan tidak... itulah yang sekarang ada dibenakku. Betapa tidak, di satu sisi banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan dan di sisi lain pagi ini (Minggu, 16 Maret 2008) mbahku kakung dirawat di rumah sakit Aisyah Ponorogo, Jawa Timur karena mendadak sesak nafas.

Sesaknya nafas mbahku katanya disebabkan karena memikirkan adik sepupu istriku yang kecelakaan motor 2 hari sebelumnya. Adik sepupuku itu namanya Zulfa dan saat ini duduk di bangku SMA Muhammadiyah Ponorogo kelas 2. Beberapa hari yang lalu dia sms saya untuk minta dibelikan beberapa program komputer karena dia akan membuat semacam 'proyek' kecil dengan temannya. Yang tadinya tidak suka komputer, sekarang jadi 'maniak' komputer.

Rencananya, Zulfa liburan ini akan ke rumahku untuk diskusi seputar komputer. Namun sepertinya tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat ini karena musibah tadi. Kecelakaan ini sebenarnya terjadi di dekat rumahnya, ketika ia hendak menjemput adiknya Sasha yang sedang ikut pengajian di TPA setempat. Karena jaraknya yang dekat tadi, Zulfa menjemputnya dengan motor TANPA menggunakan HELM.

Tanpa diduga, kecelakaan terjadi menimpa adikku Zulfa. Ia berusaha menghindari sepeda dan terjatuh. Entah kejadian pastinya seperta apa (saya sendiri belum tahu kronologis persisnya) namun menurut orang tuanya, setelah melalui pengecekan CT scan, Zulfa dinyatakan mengalami pendarahan di dekat otak kirinya. Tidak lama setelah kecelakaan tersebut, Zulfa memang sering pusing dan muntah-muntah.

Ya 4JJ1, semua kejadian ini memang kehendak dan rahasia-MU. Tidak seorang pun yang dapat menghindarinya jika ENGKAU sudah berkehendak. Namun, saya dan istri serta keluarga hanya bisa memohon kepada-MU untuk memberikan kesempatan umur yang lebih panjang, kesehatan, dan kepulihannya kembali seperti sedia kala.

Malam ini (Minggu, 16 Maret 2008), adikku Zulfa akan dioperasi. Semua keluarga mendo'akannya agar operasi berlangsung lancar dan adikku kembali sehat wal'afiat.
Begitu juga dengan mbahku yang pada hari berikutnya jatuh sakit dan mengalami sesak nafas dan sekarang dirawat karena memikirkan cucunya itu. Cucu yang dirawatnya dari bayi dan tinggal seatap sejak bayi pula kini tengah dirawat dan akan dioperasi.

Ya 4JJ1, berilah kesembuhan kepada mereka. Mereka yang kami cintai semuanya. Lancarkan operasi adik sepupuku itu. Berilah ketenangan dan kesabaran kepada keduanya.....
Ya 4JJ1, hanya Engkaulah yang mengetahui semua rencana ini. Berilah kebaikan kepada semua keluarga kami.
Ya 4JJ1, berilah pula ketetapan hati dan kesabaran kepada kami.
Ya 4JJ1, kabulkanlah permohonan kami ini. Amin.

Zulfa dan mbah kakungku, semoga kalian diberikan kesehatan dan kepulihan sehingga kita dapat kembali berkumpul.

Dari kakakmu dan cucumu di Bogor,

Heru dan Retno.

Minggu, 27 Januari 2008

Tempe

Sumber: Putu Setia (PS) dari Koran Tempo Edisi Minggu, 27 Januari 2008.

Saya dalam tulisan ini adalah penulis asli = Putu Setia (PS)

Jangan mau menjadi "bangsa tempe". Begitu seorang pemimpin di masa lalu berseru sambil mengacungkan tangan. Saya (PS) yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama--berbaju lusuh tanpa alas kaki--menyambut acungan tangan itu dengan teriakan "ganyang kapitalisme dan imperialisme". Saya tak berhasil mengingat apakah saat itu saya tahu arti kapitalisme dan imperialisme. Tapi kata "ganyang" saya tahu artinya, banyak sekali yang harus "diganyang": ada Malaysia, Inggris, Amerika, belum lagi "nekolim" yang kalau tak salah akronim dari neokolonialisme dan imperialisme. Saya baru saja dijadikan anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia.

Saya tak bermaksud menyoroti suasana politik di masa itu. Saya betul-betul hanya mau menyoroti soal tempe. Ketika itu, dasawarsa 1960-1970, sawah saya di kampung masih ditanami kedelai. Separuh tahun ditanami padi, separuh tahun ditanam palawija, khususnya kedelai. Sawah-sawah lainnya juga begiut. Kedelai jadi produk pertanian yang penting. Setelah panen, kedelai bisa direbus untuk camilan, bisa dijadikan sayur, selebihnya dijual kepada juragan lalu dibawanya ke kota untuk dijadikan tempe. Setelah jadi tempe, dibawa lagi ke desa. Tempe betul-betul makanan rakyat jelata, orang-orang yang kalah bersaing dalam hal apa pun. Karena itu, para pemimpin partai--yang hampir tiap hari berkeliling desa dan dekolah--selalu berpidato: jangan menjadi rakyat jelata, jangan kalah bersaing, jangan jadi "bangsa tempe", bangkitlah kamu marhaen..., dan seterusnya.

Suasana politik berubah. Suasana sawah juga berubah. Sekarang sawah-sawah tidak lagi ditanami kedelai. Adapun tempe masih ada di pasar, baik di pasar tradisional yang becek maupun di pasar swalayan yang berlantai marmer. Tempe tak hanya jadi konsumsi "orang-orang kecil" (tukang ojek, kuli bangunan, dan sebangsanya), tapi juga dimakan "orang-orang besar". Saya sendiri, sebagai penganut vegetarian yang ketat, tak bisa lepas dari tempe dan tahu, lebih sering membeli di pasar yang becek. Belum lagi adanya tren minum susu kedelai yang konon bisa meningkatkan metabolisme tubuh.

Kalau sawah-sawah di Bali, Lomboh, Jawa sudah asing lagi dengan kedelai, dari manakah bahan baku tempe itu datangnya? Ternyata dari Amerika Serikat, negeri yang dulu ikut jadi sasaran ganyang. Sebagian besar kedelai diimpor dari negeri kapitalis itu. Pedagang tempe langganan saya, Haji Mahmud, tak tahu kenyataan itu. "Wah, saya jadi malu, dulu pernah ikut memboikot produk Amerika atas anjuran seorang ulama", ujar Pak Haji.

Yang lebih malu lagi seorang profesor pertanian di Universitas Udayana. Profesor ini heran, bukan hanya satelit, komputer dan mobil yang diimpor, produk pertanian seperti kedelai, beras, gula juga diimpor. Lalu sawah-sawah Indonesia ditanami apa? Pemerintah tak pernah punya kebijakan yang membela para petani. Sawah-sawah dibiarkan setengah telantar, negeri agraris sudah tinggal nama saja. Pada saat negeri ini digoyang masalah tempe, langkah pemerintah hanya jangka pendek, menurunkan bea masuk kedelai impor sampai nol persen. Tak ada yang berpikir untuk kembali berswasembada kedelai, minimal menganjurkan menanam kedelai.

Jadi, kalau sekarang Anda makan tempe dan tahu, itu artinya Anda menguntungkan petani Amerika. Slogan di masa lalu, "Jangan jadi Bangsa Tempe" sudah sepatutnya diganti menjadi "Jadilah Bangsa Tempe", artinya tirulah kemajuan Amerika. Entahlah, apa negeri itu yang terus-menerus melesat maju, atau negeri kita yang semakin amburadul.

Selamat Jalan Pak Harto, Presiden RI ke-2

Innalillahi wainna ilaihi raji'un...

Telah berpulang ke rahmatullah mantan Presiden RI ke-2, H. M. Soeharto pada hari Minggu, 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Semoga jasa-jasa dan perbuatan baiknya dapat selalu bermanfaat bagi rakyat Indonesia dan semua dosa-dosa dan kesalahan yang diperbuatnya selama hidup dapat di ampuni oleh 4JJ1 SWT dan rakyat Indonesia. Amin.

"No body is perfect in this small world" Begitulah ungkapan yang sering kita dengar dikala ada seseorang yang sudah melakukan kesalahan kecil tetapi kebaikan besarnya tidak pernah dihargai. Saya sendiri termasuk pengagum pak Harto (begitu panggilan akrab mantan Presiden RI ke-2 ini) bukan karena nama orang tua saya kebetulan juga bernama Suharto.

Banyak jasa-jasa yang telah diperbuat dan tentunya pasti dirasakan juga oleh kita, seperti model-model pertanian kerakyatan di mana KUD, penyuluhan, klompencapir, irigasi/pengairan, dan Repelita sebagai kontrol kemajuan jangka pendek bahkan Posyandu berjalan dengan sangat baik. Sejak diangkatnya beliau menjadi Presiden pada tanggal 27 Maret 1968, dari kondisi rakyat yang sangat sengsara, di mana kekeringan dan kelaparan di mana-mana, sosok anak dari desa Kemusuk ini mampu mendongkrak bangsa Indonesia menjadi negara Swasembada Pangan pada tahun 1983 dan mendapat penghargaan dari FAO di PBB. Hanya dalam waktu kurang lebih 15 tahun.

Kalau kita lihat sekarang di mana komponen-komponen pertanian kerakyatan sudah tidak lagi berfungsi optimal, penyuluhan hampir tidak ada, KUD 'mati', klompencapir 'bubar', irigasi/pengairan yang tidak berfungsi dan Repelita sebagai rencana strategis jangka pendek dan menengah untuk melakukan kontrol kemajuan juga sudah tidak ada.

Selain itu, saat ini bukan hanya satelit, komputer, dan mobil yang diimpor tetapi juga produk-produk pertanian seperti beras, gula, dan sekarang kedelai. Lalu apa yang salah dengan negara ini? Sebagian orang bilang, "Ini kan akibat kesalahan kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun yang baru kita rasakan sekarang ini?".

Pertanyaan saya, "Apa benar demikian? Apakah ini bukan hanya sekedar permainan politik saja?" Lagu Ebiet kemudian berkumandang,"... Tanyakan pada rumput yang bergoyang ..."
Iklan salah satu perusahaan rokok ditayangkan, "Tanya kenapa?".

Tidak ada yang dapat menjawab semua ini hingga sekarang. Namun bagi saya pribadi, secara umum, kepemimpinan pak Harto lebih banyak dampak positifnya dibandingkan negatifnya. Bagi Anda yang tidak sependapat, itu hak Anda. No body is perfect.

Bogor, Minggu, 27 Januari 2008 pukul 17.18 WIB,

Heru Sukoco


Kamis, 10 Januari 2008

Membedakan “Countable Noun” dengan “Uncountable Noun”

Tulisan ini terjemahan bebas dari posting terdahulu tentang cara membedakan “Countable Noun” (benda yang dapat dihitung) dan “Uncountable Noun” (benda yang tidak dapat dihitung).

Dulu saya sering bingung mana yang “countable” dan mana yang “uncountable”. Untunglah istri saya dengan senang hati menjelaskan perbedaannya, yang ternyata sangat sederhana.

Cara membedakan mana yang “countable” dan mana yang “uncountable” adalah dengan membagi “benda” tersebut menjadi beberapa bagian.

Bingung? Berikut penjelasannya..

Countable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu TIDAK merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “countable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah kursi hingga berantakan entah dengan cara menggergaji, digigit-gigit atau dipatahin pakai tangan, maka tentu saja potongan-potongan kursi tidak bisa disebut sebagai kursi. Jadi kursi adalah “countable noun”.

Uncountable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “uncountable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah gula hingga berantakan, maka tentu saja serpihan-serpihannya tetap merupakan gula.
Jadi gula adalah “uncountable noun”.

The Difference Between “Will” and “Be + Going To”

Posting ini saya ambil dari bloggernya

This morning when my wife cleaned our bed room, I read some peace of her students’ worksheets and found about their daily schedule. I asked my wife why she should asked her students to write about it. She said that she wanted to explain the difference between “will” and “be + going to” in a sentence.

Look at these sentences:

[1]. I will watch a movie next saturday
[2]. I am going to watch a movie next saturday

Both sentences tell that the action of “watching a movie” is in the future. So what is the difference? In which sentence you should use them?

Okay..

The main difference is on the planning time.

When you are using “will” in the sentence, it means that you plan your action at the time you make/say the sentence.

When you are using “be + going to”, it means that you planned your action before.

Here is another example:

[1]
The Boy: “Girl, would you please have a dinner with me tonight?”
The Girl : “No, I won’t. I am going to watch a movie tonight”

or

[2]
The Boy: “Girl, would you please have a dinner with me tonight?”
The Girl : “No, I won’t. I will watch a movie tonight”

The difference between the two conversation above is:
Conversation [1], the girl planned to watch a movie before the boy asked her. But in conversation [2], the girl planned to watch a movie right before she answered the boy’s question. ;)

It will be useful if you are talking with a native speaker. Conversation [2] indicates that you are lying.